Ludin terus berlari
mengikuti perawat yang membawa pasien hingga menuju ke ruang UGD, tanpa
memperdulikan keadaan disekelilingnya, termasuk seorang wanita yang berada
disampingnya. Setelah perawat itu masuk ke ruang UGD, Ludin mulai berbicara
pada wanita yang mengikutinya.
“ maaf yaa.. aku tak menyangka akan terjadi seperti ini,
lalu acaranya? ” ucap Ludin yang sedang merasa bersalah.
“ tidak apa, ini bukan salahmu, mengenai acaranya aku
akan minta ditunda dulu. ”
Beberapa tahun yang lalu,
Ludin mengalami suatu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakannya, hingga
merebut kebahagiaan dalam hidupnya untuk sementara waktu.
Ting…(Handphone
Meli berbunyi). Meli pun bergegas untuk mengambil Handphone miliknya.
“ wahwaah lihat siapa ini, apa isi pesannya yaa. ” Meli
pun membaca isi pesan tersebut “ Meli
jangan lupa peralatan untuk penelitian, dan jangan lelet. ” Meli tersenyum,
lalu membalas pesan tersebut, “ okee say.
” Kemudian Meli kembali menyiapkan peralatannya.
“ bu, aku berangkat dulu ”
“ eh, sudah mau pergi ya, baru saja ibu selesai bikin
sarapan, makan dulu ya ”
“ tidak usah bu, aku nanti makan di bus saja ”
“ sejak kapan kau mewarnai rambutmu itu ”
“ baru saja kemarin, sudah dulu ya bu, aku sudah
terlambat, bilang pada ayah ya aku sudah berangkat, dadah ibu ” Meli pun
memeluk ibunya.
“ assalamu’alaikum harusnya, nanti ibu sampaikan pada
ayah, hati-hati di jalan yaa, jangan lupa berdoa ”
Sesampainya di kampus,
Meli dan teman-temannya masuk ke dalam bus kemudian menduduki tempat duduk
masing-masing, termasuk Ludin yang duduk tepat didepan Meli.
“ hei, apa kau sudah membawa semua peralatannya? Tidak
ada yang tertinggalkan? ” Tanya Ludin.
“ sudah, kamu bawel banget sih. ” jawab Meli.
“ itu karna aku sayang banget sama kamu, makanya aku
bawel ”
“ alaaah, gombal ”
“ bisa tidak, kalian mesra-mesranya kalau sudah sampai
tujuan? Kupingku panas mendengarnya ” ucap Dewi yang duduk bersebelahan dengan
Meli.
“ hahaha.. maaf ya, aku tidak bermaksud untuk membuat
jomblo jadi iri ” jawab Meli.
“ aseeem, siapa juga yang iri, yang
ada aku jadi ilfil liat kalian begitu ”
Setelah percakapan yang
singkat itu, bus pun berangkat menuju Kampung Baru. Para penumpang pun mulai
sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang tidur, ada yang membaca buku,
ada yang melihat pemandangan, ada yang mendengarkan musik, bahkan ada yang
makan. Tapi semua kesenangan mereka itu berlangsung sementara, ketika bus
melewati jalan yang berbatu dan sekaligus merupakan jalan yang terbilang sempit
dengan hutan yang lebat, lengkap dengan jurang yang ada ada didua sisi jalan
tersebut. Bus pun mulai bergoncang ketika melewati jalan berbatuan yang ada,
sehingga membuat para penumpang yang sibuk dengan urusannya sedikit panik dan
bahkan ada yang ingin menangis karena takut dan khawatir. Kekhawatiran mereka
ini pun semakin menguat ketika sebuah mobil truk melewati jalan yang sama
dengan arah yang berlawanan, berjalan dengan kencang, sehingga suatu kecelakaan
yang tidak dapat dihindari terjadi, bus yang ditumpangi Ludin, Meli dan
teman-temannya pun jatuh ke jurang, sehingga para penumpang terluka parah
akibat kecelakaan ini bahkan sampai ada yang meninggal dunia.
“ Meli…. ” ucap Ludin yang baru tersadar dari koma.
“ ibuu….. kak Ludin sudah sadar ” teriak adik Ludin yang
sedang bersamanya di Rumah Sakit.
“ cepat panggil dokter kemari! Syukurlah dia sudah sadar
” jawab ibu Ludin.
Setelah dokter selesai
memeriksa, Ludin pun bertanya pada ibunya tentang keberadaan Meli.
“ ibuu? ”
“ syukurlah kamu sudah sadar nak, kamu mengalami koma
selama seminggu di rumah sakit ini, ibu sangat khawatir ” jawab ibu Ludin
dengan menahan tangisnya.
“ Meli dimana bu? Apakah Meli baik-baik saja? ”
“ Meli…. ”
“ ada apa dengan Meli? ”
“ sampai saat ini tim SAR belum menemukannya, jadi dia
sudah dinyatakan meninggal beberapa hari yang lalu. ”
“ tidak, ibu bohong kan, jangan bohong padaku bu, aku
ingin ketemu sama Meli, pasti dia sedang dirawat juga kan buuu ”
“ maafkan ibu nak, tapi Meli benar-benar sudah tiada ”
“ Ludin.. terimalah kenyataan bahwa Meli sudah tiada ”
sahut ayah Ludin.
“ tidaakk, ini tidak mungkin terjadi, aku harus cari
Meli, dia pasti masih hidup ” Ludin pun hendak bangun dari tempat tidurnya.
“ kau mau kemana? Apa kau sadar bahwa kau baru saja koma
seminggu yang lalu, dan kau ingin mencari Meli sekarang dengan kondisimu yang
seperti ini? Ayah tidak akan mengizinkanmu pergi ”
“ tapi yah.. ”
“ sudah ayah katakan kau tidak bisa pergi, jika kau
ingin mencarinya sembuhkan dulu dirimu baru kau boleh mencarinya, apa kau ingin
membuat ibumu menangis lagi?”
Setelah setahun dalam masa penyembuhan Ludin pun
berencana untuk pergi mencari Meli bersama teman kampusnya yang bersedia
membantunya.
“ din.. apa kau yakin ingin mencarinya? Kejadian ini
sudah berlalu 1 tahun, kemungkinan untuk menemukannya menjadi sangat kecil. ”
ucap Eko.
“ setidaknya kita harus berusaha mencarinya, walaupun itu
tidak mungkin, dan aku akan sangat menyesal jika tidak pernah mencarinya ”
“ aku sih ikut-ikut saja, mumpung liburan geratis... hehe
” sahut Ashari.
“ baiklah jika itu mau kalian, tapi jika kita telah
berhari-hari disana dan tidak ada kabar apapun tentang Meli, berjanjilah padaku
untuk segera pulang ” ucap Eko.
“ iyaa, aku janji. ” jawab Ludin.
Keesokkan harinya
mereka pun berkumpul di terminal bus terdekat, mereka juga sudah berpamitan
dengan orang tua dan meminta doa agar pencarian mereka membuahkan hasil, dan
sesegera mungkin mereka akan kembali dari pencariannya itu. Setelah melakukan
perjalanan yang membutuhkan waktu berjam-jam akhirnya mereka pun sampai di
Kampung Baru. Hari pertama pencarian mereka memutuskan untuk beristirahat dan
mencari tempat penginapan, Ludin pun hendak pergi untuk berkeliling dan
meninggalkan Eko dan Ashari yang berada di penginapan. Dia berjalan melewati
perkebunan, melewati sawah, dan akhirnya sampai disebuah pasar.
“ ternyata disini pasarnya, cukup jauh juga dari tempat
penginapan ”
“ minggir-minggir aku ingin lewat ” ucap nelayan yang
setengah berteriak itu.
Karena penasaran dengan
jenis ikan apa yang dibawa oleh nelayan itu, Ludin pun hendak mengikuti nelayan
tersebut, ketika sampai di lapaknya saat itulah Ludin melihat seorang wanita
yang tidak asing dipenglihatannya.
“ neng, jadi tidak beli ikannya? ”
“ hampura kang, sepertinya tidak jadi ”
“ eleh-eleh si eneng ulah gitu atuh, tidak kasihan apa
sama saya, sudah dikasih harga murah, ditawar lagi, tapi tidak jadi beli, saya
merasa diphpin neng ”
“ ahaha… akang mah bisa aja ”
“ kang, ini ikannya mau disimpan dimana? ” tanya nelayan.
“ isshh.. maneh tidak lihat apa, saya sedang sibuk! Taruh
saja ikannya dalam box ”
“ sibuk apa, godain awewe dibilang sibuk ”
“ iiihh, iri saja ” sahut penjual.
“ yaudah eneng pulang dulu yah, assalamu’alaikum ”
“ wa’alaikum salam neng geulis. ”
Di luar pasar Tanti
sudah duduk diatas sepedanya menunggu Astri.
“ ih, kamu lama banget, panas tau ”
“ iya, maaf aku habis ke lapak kang jaja ”
“ mau ngapain Astri? Mau ngobrol bahasa sunda lagi?
Padahal kamu tidak beli ikannya, buang-buang waktu saja ”
“ haha, habis aku mau ngomong bahasa sunda dengan siapa
coba, kalau bukan dengan kang jaja? ”
“ terserah deh, cepet naik ”
Dari kejauhan Ludin
terus menatap Astri tanpa berani untuk mendekatinya apalagi berbicara padanya,
setelah itu dia pun langsung pulang dan menceritakan hal tersebut kepada Eko
dan Ashari, tetapi kedua temannya itu tidak mempercayai bahwa Ludin telah
melihat Meli saat di pasar tadi, mereka pun berasumsi bahwa yang Ludin lihat
adalah orang yang memiliki wajah serupa dengan wajah Meli, asumsi kedua temannya
itu pun membuat Ludin berpikir akan hal yang sama.
Keesokan harinya,
Ludin, Eko, dan Ashari mencoba meminta bantuan tim SAR terdekat untuk membantu
mereka mencari Meli atau barang-barang yang berhubungan dengan Meli di lokasi
kecelakaan, namun tim SAR menolaknya karena mereka menganggap bahwa pencarian
itu akan sia-sia. Berbagai cara yang Ludin lakukan untuk membuat tim SAR
membantunya, dengan dalih bahwa ada kejadian aneh yang terjadi, kenapa hanya
jasad Meli yang tidak ditemukan, tetapi jasad para penumpang yang lain telah
ditemukan. Akhirnya para anggota tim SAR juga mau ikut membantu mereka, tetapi
kali ini mereka memutuskan untuk mencari dengan jangkauan jarak lebih luas dari
sebelumnya, namun pencarian yang mereka lakukan pada akhirnya juga tidak
menbuahkan hasil apapun.
Tentu Ludin sangat
sedih akan hasil pencarian yang mereka lakukan, maka dari itu mereka memutuskan
untuk bertanya kepada warga sekitar untuk menggali informasi mengenai
kecelakaan itu ditambah lagi dengan jarak lokasi kecelakaan tidak begitu jauh
dari Kampung Baru yang hanya berjarak 3 meter saja. Akan tetapi ada suatu
kejanggalan yang terjadi saat mereka menanyakan kejadian kecelakaan. Dan para
warga sekitar hanya menjawab dengan jawaban yang singkat-singkat saja.
“ aaa.. aku tidak tahu mengenai kecelakaan itu, maaf,
kalau begitu saya permisi ”
“ aku baru saja pindah ke kampung ini sebulan yang lalu ”
“ ah, maaf aku sedang terburu-buru, jadi silahkan tanya
yang lain saja ”
Bahkan ada yang
menjawab dengan..
“ ya mana aku tahu lah, emangnya itu penting untuk
diketahui ”
“ kau berani bayar berapa untuk info itu? Tapi kalaupun
kau bayar pasti aku tidak akan memberitahumu, sana minggir! Kalian hanya membuang-buang
waktu ku ”
Mereka pun dibuat kesal
oleh jawaban para warga setempat. Sampai pada akhirnya mereka menanyakan kepada
pak lurah tentang kecelakaan ini.
“ permisi pak, kedatangan kami kemari ini menanyakan
tentang sesuatu ” ucap Ludin. “ ya
ada apa? ”
“ apakah bapak tahu tentang sesuatu mengenai kecelakaan
yang terjadi setahun yang lalu? Lokasinya 3 meter dari kampung sini ” tanya
Ludin.
“ kalau itu saya tidak tahu, saya rasa tidak pernah ada
kecelakaan di daerah dekat sini setahun yang lalu ”
“ pak, tolong bantu kami, jangan makin mempersulit, saya
adalah salah satu korban kecelakaan itu, tidak mungkin itu hanya kebohongan,
dan bapak pasti tahu mengenai hal ini, lalu kenapa bapak tutupi? ”
“ kalau aku bilang tidak, berarti tidak! Apa kau tak paham
juga anak mudaa ”
“ bapak pasti berbohong! Tidak mungkin bapak tidak tahu,
apa bapak dan warga sengaja untuk menyembunyikan permasalahan ini? ” ucap Ludin
dengan nada yang meninggi karena emosi.
“ hey anak muda, apa kau tidak diajarkan sopan santun?
Kenapa kau membentak orang yang lebih tua, cepat pergi dari sini atau aku akan
memanggil keamanan untuk mengusir kalian. ”
“ apa kau tidak mengerti? Ini menyangkut dengan pacarku,
apa kau tidak punya rasa berbelas kasih! ”
“ sudah Ludin, ayo kita pergi, maaf atas keributannya,
kami tidak bermaksud untuk membuat keributan disini ” ucap Eko sambil menarik
Ludin keluar dari kantor.
Disaat perjalanan
pulang mereka bertemu dengan Astri sehingga membuat mereka terkejut dan
langsung mendekati Astri yang mereka kira adalah Meli. Astri sangat ketakutan
karena dia berpikir bahwa Ludin dan teman-temannya adalah segerombolan
penjahat. Tetapi mereka langsung dengan sigap menjelaskan pada Astri, bahwa
mereka ingin mengetahui bahwa apakah Astri adalah teman mereka yang hilang.
Mereka tidak yakin dengan jawaban yang Astri berikan, karena wajah, rambut,
suara, bahkan umur Astri sama persis dengan Meli, dan setahu mereka Meli tidak
mempunyai saudara. Setelah perdebatan mereka selesai, Ludin pun memberi tahu
kepada orang tua Meli bahwa ada seseorang yang mirip dengan anaknya dan ada
kemungkinan besar bahwa Astri, memang anak mereka yang telah hilang dalam
kecelakaan setahun yang lalu. Orang tua Meli pun menyuruh Ludin untuk
menyelidikinya, apakah Astri itu memang anak mereka yang telah hilang.
Sejak saat itu Ludin
berusaha mencari informasi tentang Astri, tetapi tidak membuahkan hasil sama
sekali, yang ada hanya akte kelahiran yang menunjukkan bahwa Astri merupakan
anak pak lurah di Kampung Baru, Ludin juga melakukan banyak cara agar bisa dekat
dengan Astri dengan harapan bisa membawa suatu penyelesaian tentang masalah
ini, justru dia lebih berharap lagi jika Astri itu adalah Meli kekasihnya.
Usaha yang dia lakukan juga mengalami suatu rintangan karena ayah Astri, alias
pak lurah, tidak mengizinkan anaknya untuk dekat dengan Ludin sejak kejadian
yang terjadi di kantornya. Tapi takdir berkata lain.
“ wah banyak juga baju yang harus ku cuci hari ini ” ucap
Astri.
Kemudian Astri pun
duduk di atas batu dan meletakkan keranjang yang berisi baju disamping tempat
duduknya, saat sedang mencuci Astri tidak sengaja menyenggol keranjang yang
berada disampingnya, sehingga keranjang tersebut terbawa oleh arus sungai.
“ aaaa…. Keranjang ku, ibu pasti akan memarahiku, aku
harus mengambilnya ”
Ketika Astri hendak
mengambil keranjangnya, kakinya terpeleset karena menginjak batu yang licin,
saat itu lah awal mula dari kedekatan Astri dan Ludin.
“ uuu.. sedikit lagi…. hampir sampai…. aaa ”
Dengan sigap Ludin
memegang tangan Astri yang akan terjatuh.
“ Astri awaaaass ” memegang tangan Astri lalu membawanya
ketepi.
“ ma.. makasih ya
”
“ ya, lain kali hati-hati, apa sih yang kamu lakukan? Itu
kan bahaya ”
“ aku ingin mengambil keranjangku yang terjatuh disana ”
“ biar aku saja yang ambil, kamu tunggu disini ” Ludin
menuju sungai dan mengambil keranjang yang terbawa arus.
“ tapi.. aku bisa sendiri ”
“ ini… jangan begitu ini kan bahaya, kenapa tidak meminta
tolong saja ”
“ aku malu untuk membebankan orang lain, maka dari itu
aku berusaha sendiri selagi aku masih bisa mengerjakannya ”
“ memang betul, tapi kamu juga harus lihat situasi dan
kondisi, kalau itu sesuatu yang berat kamu perlu pertolongan seseorang, kita
ini makhluk sosial, jadi ada waktunya kita sangat membutuhkan bantuan ”
“ ya aku mengerti terima kasih ya ”
“ kalau begitu, boleh aku antar kamu sampai ke rumah?
Kamu mau pulang kan ”
“ ya boleh ”
Dalam perjalanan
pulang, Ludin melihat Astri mengenakan gelang yang sama, dengan gelang yang ia
berikan pada Meli, dia pun bertanya tentang gelang itu.
“ kamu suka memakai gelang juga yah, ngomong-ngomong,
kamu dapat gelang itu dari mana? ”
“ oh, ini pemberian ayahku, aku tidak begitu suka sih
memakai gelang, aku juga baru-baru ini memakainya, karena ayahku memberinya
tahun lalu ”
Kecurigaan Ludin pun
semakin menjadi, banyak hal-hal aneh yang dirasakannya dan patut untuk
diselidiki. Saat terakhir kali Ludin dan Astri bertemu, mereka sering
berkomunikasi lewat Handphone dan
mulai sering untuk bertemu. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Ludin untuk mencari
tahu soal kebenaran yang sesungguhnya, namun dia juga tidak menemukan hasilnya,
sampai-sampai dia kembali menelpon orang tua Meli untuk membantunya mencari
informasi. Akhirnya Ludin pun mengetahui bahwa Meli mempunyai tanda lahir tepat
dibelakang telinga kanannya, Ludin pun membutuhkan waktu beberapa hari untuk
mengumpulkan keberanian bertanya pada Astri, ketika dia bertanya padanya memang
agak sedikit menimbulkan perdebatan, karena Astri tidak ingin
dibanding-bandingkan dengan Meli, namun pada akhirnya Astri mengizinkan Ludin
untuk melihatnya, tetapi hasilnya begitu mengejutkan bahwa tidak ada tanda
lahir disana, berarti Astri adalah Astri bukan Meli, setelah mengetahui hal
itu, Astri pun langsung pulang dan marah pada Ludin di karenakan dia kecewa
dengan sikap Ludin yang terus membandingkannya.
“ apa ku bilang, dia pasti orang yang hanya mirip dengan
Meli, warna rambutnya saja jelas beda ” ucap Eko.
“ itu karena Meli mengecat rambutnya sebelum pergi untuk
penelitian, cat yang digunakan juga bukan permanen, jadi aku berpikir kalau
warnanya sudah hilang ” jawab Ludin.
“ jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? ” tanya
Ashari.
“ aku ingin meminta maaf padanya, sepertinya aku juga
ingin mengungkapkan perasaanku padanya sekarang ”
Kemudian dia bergegas
untuk menemui Astri dan meminta maaf padanya, dia juga mengungkapkan
perasaannya yang sesungguhnya, tapi tetap ada juga rintangan disetiap
permasalahan kehidupan, dia harus meyakinkan Astri bahwa dia telah menyukai
Astri apa adanya, bukan karena Astri mirip dengan Meli mantan pacarnya, dia
juga harus meyakinkan pak lurah agar hubungannya dengan Astri direstui.
Setelah semua
permasalahan kehidupan yang berliku telah dilaluinya, akhirnya usaha yang
dilakukan berbuah manis, orang tua Astri memberi restu akan hubungan mereka dan
begitu juga orang tua Ludin. Selama 2 tahun mereka menjalankan hubungan dengan
penuh persoalan dan permasalahan ditambah tidak adanya restu orang tua, mereka
pun pada akhirnya memutuskan untuk menikah.
“ duh,, kok aku jadi deg-degan yah, baru saja mau
memasuki rumahnya ” ucap Ludin.
Setelah Ludin dan
keluarganya masuk, ada satu persoalan yang terjadi.
“ Astri? Kenapa dia memakai baju itu? Itu kan bukan baju
pengantin yang kami pesan. ” tanya Ludin dalam hati.
“ yaa.. pengantin wanita dipersilahkan keluar ” ucap MC.
Sesaat Astri tiba di
ruang tamu.
“ tunggu duluuu, kalau dia calon ku, lalu yang duduk
disana siapa? ” ucap Ludin, lalu dia menghampiri gadis itu “ heeii kau, siapa
kamu? Kenapa wajahmu mirip dengan calon istri ku? Hei kau dengar aku? Jawab
aku! ” tanya Ludin dengan sedikit membentak.
Bukannya menjawab gadis
itu malah pingsan dan dibawa ke rumah sakit karena merasa sakit pada kepalanya,
acara pernikahan pun terpaksa ditunda, setelah diselidiki bahwa gadis yang
pingsan itu adalah Meli mantan Ludin, yang kehilangan ingatannya akibat
kecelakaan. Dan diketahui juga bahwa Meli selama ini dirawat oleh saudara pak
lurah di kampung sebelah, mereka tidak ingin mengembalikan Meli karena Meli
tidak ingat apapun dan tidak ingin memaksakan ingatannya. Kabar yang lebih
mengejutkan adalah, Astri memiliki hubungan darah dengan Meli, karena Astri
merupakan kembaran Meli yang hilang 10 tahun lalu akibat penculikan yang
dihadapinya, pak lurah juga tidak mau mengembalikannya pulang, karena pak lurah
tidak memiliki anak, dan dia ingin menjadikan Astri sebagai anaknya sendiri,
itu sebabnya Astri dan Meli sangat mirip. Mengenai kejadian kecelakaan itu pak
lurah dan warganya sepakat untuk tidak menceritakan kejadian itu kepada para
pendatang, karena takut akan para turis yang datang berkurang jumlahnya dan
penghasilan pariwisata mereka menurun.
3 tahun setelah
kejadian itu terungkap.
“ kakak cepat, ibu dan ayah sudah menunggu dibawah,
dandannya jangan lama ” ucap Meli.
“ iya.. iyaaa sabar sebentar, ini kan acara pernikahan
jadi harus cantik ” jawab Astri.
“ iya tapi jangan ketebelan, lama kan jadinya, nanti
acara pernikahan Ludin dan Harum sudah dimulai ”
“ iyaaa adikku yang bawel, ini juga sudah selesai, yuk
kita pergi ” Astri menggandeng tangan Meli sambil tersenyum.
Ceritanyaa seru...
BalasHapusBlom abis baca kak
BalasHapus