Kamis, 22 Maret 2018

Diantara aku dan dia


Ludin terus berlari mengikuti perawat yang membawa pasien hingga menuju ke ruang UGD, tanpa memperdulikan keadaan disekelilingnya, termasuk seorang wanita yang berada disampingnya. Setelah perawat itu masuk ke ruang UGD, Ludin mulai berbicara pada wanita yang mengikutinya.
            “ maaf yaa.. aku tak menyangka akan terjadi seperti ini, lalu acaranya? ” ucap Ludin yang sedang merasa bersalah.
            “ tidak apa, ini bukan salahmu, mengenai acaranya aku akan minta ditunda dulu. ”
Beberapa tahun yang lalu, Ludin mengalami suatu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakannya, hingga merebut kebahagiaan dalam hidupnya untuk sementara waktu.
Ting(Handphone Meli berbunyi). Meli pun bergegas untuk mengambil Handphone miliknya.
            “ wahwaah lihat siapa ini, apa isi pesannya yaa. ” Meli pun membaca isi pesan tersebut “ Meli jangan lupa peralatan untuk penelitian, dan jangan lelet. ” Meli tersenyum, lalu membalas pesan tersebut, “ okee say. ” Kemudian Meli kembali menyiapkan peralatannya.
            “ bu, aku berangkat dulu ”
            “ eh, sudah mau pergi ya, baru saja ibu selesai bikin sarapan, makan dulu ya ”
            “ tidak usah bu, aku nanti makan di bus saja ”
            “ sejak kapan kau mewarnai rambutmu itu ”
            “ baru saja kemarin, sudah dulu ya bu, aku sudah terlambat, bilang pada ayah ya aku sudah berangkat, dadah ibu ” Meli pun memeluk ibunya.
            “ assalamu’alaikum harusnya, nanti ibu sampaikan pada ayah, hati-hati di jalan yaa, jangan lupa berdoa ”
Sesampainya di kampus, Meli dan teman-temannya masuk ke dalam bus kemudian menduduki tempat duduk masing-masing, termasuk Ludin yang duduk tepat didepan Meli.
            “ hei, apa kau sudah membawa semua peralatannya? Tidak ada yang tertinggalkan? ” Tanya Ludin.
            “ sudah, kamu bawel banget sih. ” jawab Meli.
            “ itu karna aku sayang banget sama kamu, makanya aku bawel ”
            “ alaaah, gombal ”
            “ bisa tidak, kalian mesra-mesranya kalau sudah sampai tujuan? Kupingku panas mendengarnya ” ucap Dewi yang duduk bersebelahan dengan Meli.
            “ hahaha.. maaf ya, aku tidak bermaksud untuk membuat jomblo jadi iri ” jawab Meli.
            “ aseeem, siapa juga yang iri, yang ada aku jadi ilfil liat kalian begitu ”
Setelah percakapan yang singkat itu, bus pun berangkat menuju Kampung Baru. Para penumpang pun mulai sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang tidur, ada yang membaca buku, ada yang melihat pemandangan, ada yang mendengarkan musik, bahkan ada yang makan. Tapi semua kesenangan mereka itu berlangsung sementara, ketika bus melewati jalan yang berbatu dan sekaligus merupakan jalan yang terbilang sempit dengan hutan yang lebat, lengkap dengan jurang yang ada ada didua sisi jalan tersebut. Bus pun mulai bergoncang ketika melewati jalan berbatuan yang ada, sehingga membuat para penumpang yang sibuk dengan urusannya sedikit panik dan bahkan ada yang ingin menangis karena takut dan khawatir. Kekhawatiran mereka ini pun semakin menguat ketika sebuah mobil truk melewati jalan yang sama dengan arah yang berlawanan, berjalan dengan kencang, sehingga suatu kecelakaan yang tidak dapat dihindari terjadi, bus yang ditumpangi Ludin, Meli dan teman-temannya pun jatuh ke jurang, sehingga para penumpang terluka parah akibat kecelakaan ini bahkan sampai ada yang meninggal dunia.
            “ Meli…. ” ucap Ludin yang baru tersadar dari koma.
            “ ibuu….. kak Ludin sudah sadar ” teriak adik Ludin yang sedang bersamanya di Rumah Sakit.
            “ cepat panggil dokter kemari! Syukurlah dia sudah sadar ” jawab ibu Ludin.
Setelah dokter selesai memeriksa, Ludin pun bertanya pada ibunya tentang keberadaan Meli.
            “ ibuu? ”
            “ syukurlah kamu sudah sadar nak, kamu mengalami koma selama seminggu di rumah sakit ini, ibu sangat khawatir ” jawab ibu Ludin dengan menahan tangisnya.
            “ Meli dimana bu? Apakah Meli baik-baik saja? ”
            “ Meli…. ”
            “ ada apa dengan Meli? ”
            “ sampai saat ini tim SAR belum menemukannya, jadi dia sudah dinyatakan meninggal beberapa hari yang lalu. ”
            “ tidak, ibu bohong kan, jangan bohong padaku bu, aku ingin ketemu sama Meli, pasti dia sedang dirawat juga kan buuu ”
            “ maafkan ibu nak, tapi Meli benar-benar sudah tiada ”
            “ Ludin.. terimalah kenyataan bahwa Meli sudah tiada ” sahut ayah Ludin.
            “ tidaakk, ini tidak mungkin terjadi, aku harus cari Meli, dia pasti masih hidup ” Ludin pun hendak bangun dari tempat tidurnya.
            “ kau mau kemana? Apa kau sadar bahwa kau baru saja koma seminggu yang lalu, dan kau ingin mencari Meli sekarang dengan kondisimu yang seperti ini? Ayah tidak akan mengizinkanmu pergi ”
            “ tapi yah.. ”
            “ sudah ayah katakan kau tidak bisa pergi, jika kau ingin mencarinya sembuhkan dulu dirimu baru kau boleh mencarinya, apa kau ingin membuat ibumu menangis lagi?” 
Setelah setahun dalam masa penyembuhan Ludin pun berencana untuk pergi mencari Meli bersama teman kampusnya yang bersedia membantunya.
            “ din.. apa kau yakin ingin mencarinya? Kejadian ini sudah berlalu 1 tahun, kemungkinan untuk menemukannya menjadi sangat kecil. ” ucap Eko.
            “ setidaknya kita harus berusaha mencarinya, walaupun itu tidak mungkin, dan aku akan sangat menyesal jika tidak pernah mencarinya ”
            “ aku sih ikut-ikut saja, mumpung liburan geratis... hehe ” sahut Ashari.
            “ baiklah jika itu mau kalian, tapi jika kita telah berhari-hari disana dan tidak ada kabar apapun tentang Meli, berjanjilah padaku untuk segera pulang ” ucap Eko.
            “ iyaa, aku janji. ” jawab Ludin.
Keesokkan harinya mereka pun berkumpul di terminal bus terdekat, mereka juga sudah berpamitan dengan orang tua dan meminta doa agar pencarian mereka membuahkan hasil, dan sesegera mungkin mereka akan kembali dari pencariannya itu. Setelah melakukan perjalanan yang membutuhkan waktu berjam-jam akhirnya mereka pun sampai di Kampung Baru. Hari pertama pencarian mereka memutuskan untuk beristirahat dan mencari tempat penginapan, Ludin pun hendak pergi untuk berkeliling dan meninggalkan Eko dan Ashari yang berada di penginapan. Dia berjalan melewati perkebunan, melewati sawah, dan akhirnya sampai disebuah pasar.
            “ ternyata disini pasarnya, cukup jauh juga dari tempat penginapan ”
            “ minggir-minggir aku ingin lewat ” ucap nelayan yang setengah berteriak itu.
Karena penasaran dengan jenis ikan apa yang dibawa oleh nelayan itu, Ludin pun hendak mengikuti nelayan tersebut, ketika sampai di lapaknya saat itulah Ludin melihat seorang wanita yang tidak asing dipenglihatannya.
            “ neng, jadi tidak beli ikannya? ”
            “ hampura kang, sepertinya tidak jadi ”
            “ eleh-eleh si eneng ulah gitu atuh, tidak kasihan apa sama saya, sudah dikasih harga murah, ditawar lagi, tapi tidak jadi beli, saya merasa diphpin neng ”
            “ ahaha… akang mah bisa aja ”
            “ kang, ini ikannya mau disimpan dimana? ” tanya nelayan.
            “ isshh.. maneh tidak lihat apa, saya sedang sibuk! Taruh saja ikannya dalam box ”
            “ sibuk apa, godain awewe dibilang sibuk ”
            “ iiihh, iri saja ” sahut penjual.
            “ yaudah eneng pulang dulu yah, assalamu’alaikum ”
            “ wa’alaikum salam neng geulis. ”          
Di luar pasar Tanti sudah duduk diatas sepedanya menunggu Astri.
            “ ih, kamu lama banget, panas tau ”
            “ iya, maaf aku habis ke lapak kang jaja ”
            “ mau ngapain Astri? Mau ngobrol bahasa sunda lagi? Padahal kamu tidak beli ikannya, buang-buang waktu saja ”
            “ haha, habis aku mau ngomong bahasa sunda dengan siapa coba, kalau bukan dengan kang jaja? ”
            “ terserah deh, cepet naik ”
Dari kejauhan Ludin terus menatap Astri tanpa berani untuk mendekatinya apalagi berbicara padanya, setelah itu dia pun langsung pulang dan menceritakan hal tersebut kepada Eko dan Ashari, tetapi kedua temannya itu tidak mempercayai bahwa Ludin telah melihat Meli saat di pasar tadi, mereka pun berasumsi bahwa yang Ludin lihat adalah orang yang memiliki wajah serupa dengan wajah Meli, asumsi kedua temannya itu pun membuat Ludin berpikir akan hal yang sama.
Keesokan harinya, Ludin, Eko, dan Ashari mencoba meminta bantuan tim SAR terdekat untuk membantu mereka mencari Meli atau barang-barang yang berhubungan dengan Meli di lokasi kecelakaan, namun tim SAR menolaknya karena mereka menganggap bahwa pencarian itu akan sia-sia. Berbagai cara yang Ludin lakukan untuk membuat tim SAR membantunya, dengan dalih bahwa ada kejadian aneh yang terjadi, kenapa hanya jasad Meli yang tidak ditemukan, tetapi jasad para penumpang yang lain telah ditemukan. Akhirnya para anggota tim SAR juga mau ikut membantu mereka, tetapi kali ini mereka memutuskan untuk mencari dengan jangkauan jarak lebih luas dari sebelumnya, namun pencarian yang mereka lakukan pada akhirnya juga tidak menbuahkan hasil apapun.
Tentu Ludin sangat sedih akan hasil pencarian yang mereka lakukan, maka dari itu mereka memutuskan untuk bertanya kepada warga sekitar untuk menggali informasi mengenai kecelakaan itu ditambah lagi dengan jarak lokasi kecelakaan tidak begitu jauh dari Kampung Baru yang hanya berjarak 3 meter saja. Akan tetapi ada suatu kejanggalan yang terjadi saat mereka menanyakan kejadian kecelakaan. Dan para warga sekitar hanya menjawab dengan jawaban yang singkat-singkat saja.
            “ aaa.. aku tidak tahu mengenai kecelakaan itu, maaf, kalau begitu saya permisi ”
            “ aku baru saja pindah ke kampung ini sebulan yang lalu ”
            “ ah, maaf aku sedang terburu-buru, jadi silahkan tanya yang lain saja ”
Bahkan ada yang menjawab dengan..
            “ ya mana aku tahu lah, emangnya itu penting untuk diketahui ”
            “ kau berani bayar berapa untuk info itu? Tapi kalaupun kau bayar pasti aku tidak akan memberitahumu, sana minggir! Kalian hanya membuang-buang waktu ku ”
Mereka pun dibuat kesal oleh jawaban para warga setempat. Sampai pada akhirnya mereka menanyakan kepada pak lurah tentang kecelakaan ini.
            “ permisi pak, kedatangan kami kemari ini menanyakan tentang sesuatu ” ucap Ludin.       “ ya ada apa? ”
            “ apakah bapak tahu tentang sesuatu mengenai kecelakaan yang terjadi setahun yang lalu? Lokasinya 3 meter dari kampung sini ” tanya Ludin.
            “ kalau itu saya tidak tahu, saya rasa tidak pernah ada kecelakaan di daerah dekat sini setahun yang lalu ”
            “ pak, tolong bantu kami, jangan makin mempersulit, saya adalah salah satu korban kecelakaan itu, tidak mungkin itu hanya kebohongan, dan bapak pasti tahu mengenai hal ini, lalu kenapa bapak tutupi? ”
            “ kalau aku bilang tidak, berarti tidak! Apa kau tak paham juga anak mudaa ”
            “ bapak pasti berbohong! Tidak mungkin bapak tidak tahu, apa bapak dan warga sengaja untuk menyembunyikan permasalahan ini? ” ucap Ludin dengan nada yang meninggi karena emosi.
            “ hey anak muda, apa kau tidak diajarkan sopan santun? Kenapa kau membentak orang yang lebih tua, cepat pergi dari sini atau aku akan memanggil keamanan untuk mengusir kalian. ”
            “ apa kau tidak mengerti? Ini menyangkut dengan pacarku, apa kau tidak punya rasa berbelas kasih! ”
            “ sudah Ludin, ayo kita pergi, maaf atas keributannya, kami tidak bermaksud untuk membuat keributan disini ” ucap Eko sambil menarik Ludin keluar dari kantor.
Disaat perjalanan pulang mereka bertemu dengan Astri sehingga membuat mereka terkejut dan langsung mendekati Astri yang mereka kira adalah Meli. Astri sangat ketakutan karena dia berpikir bahwa Ludin dan teman-temannya adalah segerombolan penjahat. Tetapi mereka langsung dengan sigap menjelaskan pada Astri, bahwa mereka ingin mengetahui bahwa apakah Astri adalah teman mereka yang hilang. Mereka tidak yakin dengan jawaban yang Astri berikan, karena wajah, rambut, suara, bahkan umur Astri sama persis dengan Meli, dan setahu mereka Meli tidak mempunyai saudara. Setelah perdebatan mereka selesai, Ludin pun memberi tahu kepada orang tua Meli bahwa ada seseorang yang mirip dengan anaknya dan ada kemungkinan besar bahwa Astri, memang anak mereka yang telah hilang dalam kecelakaan setahun yang lalu. Orang tua Meli pun menyuruh Ludin untuk menyelidikinya, apakah Astri itu memang anak mereka yang telah hilang.
Sejak saat itu Ludin berusaha mencari informasi tentang Astri, tetapi tidak membuahkan hasil sama sekali, yang ada hanya akte kelahiran yang menunjukkan bahwa Astri merupakan anak pak lurah di Kampung Baru, Ludin juga melakukan banyak cara agar bisa dekat dengan Astri dengan harapan bisa membawa suatu penyelesaian tentang masalah ini, justru dia lebih berharap lagi jika Astri itu adalah Meli kekasihnya. Usaha yang dia lakukan juga mengalami suatu rintangan karena ayah Astri, alias pak lurah, tidak mengizinkan anaknya untuk dekat dengan Ludin sejak kejadian yang terjadi di kantornya. Tapi takdir berkata lain.
            “ wah banyak juga baju yang harus ku cuci hari ini ” ucap Astri.
Kemudian Astri pun duduk di atas batu dan meletakkan keranjang yang berisi baju disamping tempat duduknya, saat sedang mencuci Astri tidak sengaja menyenggol keranjang yang berada disampingnya, sehingga keranjang tersebut terbawa oleh arus sungai.
            “ aaaa…. Keranjang ku, ibu pasti akan memarahiku, aku harus mengambilnya ”
Ketika Astri hendak mengambil keranjangnya, kakinya terpeleset karena menginjak batu yang licin, saat itu lah awal mula dari kedekatan Astri dan Ludin.
            “ uuu.. sedikit lagi…. hampir sampai…. aaa ”
Dengan sigap Ludin memegang tangan Astri yang akan terjatuh.
            “ Astri awaaaass ” memegang tangan Astri lalu membawanya ketepi.
              ma.. makasih ya ”
            “ ya, lain kali hati-hati, apa sih yang kamu lakukan? Itu kan bahaya ”
            “ aku ingin mengambil keranjangku yang terjatuh disana ”
            “ biar aku saja yang ambil, kamu tunggu disini ” Ludin menuju sungai dan mengambil keranjang yang terbawa arus.
            “ tapi.. aku bisa sendiri ”
            “ ini… jangan begitu ini kan bahaya, kenapa tidak meminta tolong saja ”
            “ aku malu untuk membebankan orang lain, maka dari itu aku berusaha sendiri selagi aku masih bisa mengerjakannya ”
            “ memang betul, tapi kamu juga harus lihat situasi dan kondisi, kalau itu sesuatu yang berat kamu perlu pertolongan seseorang, kita ini makhluk sosial, jadi ada waktunya kita sangat membutuhkan bantuan ”
            “ ya aku mengerti terima kasih ya ”
            “ kalau begitu, boleh aku antar kamu sampai ke rumah? Kamu mau pulang kan ”
            “ ya boleh ”
Dalam perjalanan pulang, Ludin melihat Astri mengenakan gelang yang sama, dengan gelang yang ia berikan pada Meli, dia pun bertanya tentang gelang itu.
            “ kamu suka memakai gelang juga yah, ngomong-ngomong, kamu dapat gelang itu dari mana? ”
            “ oh, ini pemberian ayahku, aku tidak begitu suka sih memakai gelang, aku juga baru-baru ini memakainya, karena ayahku memberinya tahun lalu ”
Kecurigaan Ludin pun semakin menjadi, banyak hal-hal aneh yang dirasakannya dan patut untuk diselidiki. Saat terakhir kali Ludin dan Astri bertemu, mereka sering berkomunikasi lewat Handphone dan mulai sering untuk bertemu. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Ludin untuk mencari tahu soal kebenaran yang sesungguhnya, namun dia juga tidak menemukan hasilnya, sampai-sampai dia kembali menelpon orang tua Meli untuk membantunya mencari informasi. Akhirnya Ludin pun mengetahui bahwa Meli mempunyai tanda lahir tepat dibelakang telinga kanannya, Ludin pun membutuhkan waktu beberapa hari untuk mengumpulkan keberanian bertanya pada Astri, ketika dia bertanya padanya memang agak sedikit menimbulkan perdebatan, karena Astri tidak ingin dibanding-bandingkan dengan Meli, namun pada akhirnya Astri mengizinkan Ludin untuk melihatnya, tetapi hasilnya begitu mengejutkan bahwa tidak ada tanda lahir disana, berarti Astri adalah Astri bukan Meli, setelah mengetahui hal itu, Astri pun langsung pulang dan marah pada Ludin di karenakan dia kecewa dengan sikap Ludin yang terus membandingkannya.
            “ apa ku bilang, dia pasti orang yang hanya mirip dengan Meli, warna rambutnya saja jelas beda ” ucap Eko.
            “ itu karena Meli mengecat rambutnya sebelum pergi untuk penelitian, cat yang digunakan juga bukan permanen, jadi aku berpikir kalau warnanya sudah hilang ” jawab Ludin.
            “ jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? ” tanya Ashari.
            “ aku ingin meminta maaf padanya, sepertinya aku juga ingin mengungkapkan perasaanku padanya sekarang ”
Kemudian dia bergegas untuk menemui Astri dan meminta maaf padanya, dia juga mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya, tapi tetap ada juga rintangan disetiap permasalahan kehidupan, dia harus meyakinkan Astri bahwa dia telah menyukai Astri apa adanya, bukan karena Astri mirip dengan Meli mantan pacarnya, dia juga harus meyakinkan pak lurah agar hubungannya dengan Astri direstui.
Setelah semua permasalahan kehidupan yang berliku telah dilaluinya, akhirnya usaha yang dilakukan berbuah manis, orang tua Astri memberi restu akan hubungan mereka dan begitu juga orang tua Ludin. Selama 2 tahun mereka menjalankan hubungan dengan penuh persoalan dan permasalahan ditambah tidak adanya restu orang tua, mereka pun pada akhirnya memutuskan untuk menikah.
            “ duh,, kok aku jadi deg-degan yah, baru saja mau memasuki rumahnya ” ucap Ludin.
Setelah Ludin dan keluarganya masuk, ada satu persoalan yang terjadi.
            “ Astri? Kenapa dia memakai baju itu? Itu kan bukan baju pengantin yang kami pesan. ” tanya Ludin dalam hati.
            “ yaa.. pengantin wanita dipersilahkan keluar ” ucap MC.
Sesaat Astri tiba di ruang tamu.
            “ tunggu duluuu, kalau dia calon ku, lalu yang duduk disana siapa? ” ucap Ludin, lalu dia menghampiri gadis itu “ heeii kau, siapa kamu? Kenapa wajahmu mirip dengan calon istri ku? Hei kau dengar aku? Jawab aku! ” tanya Ludin dengan sedikit membentak.
Bukannya menjawab gadis itu malah pingsan dan dibawa ke rumah sakit karena merasa sakit pada kepalanya, acara pernikahan pun terpaksa ditunda, setelah diselidiki bahwa gadis yang pingsan itu adalah Meli mantan Ludin, yang kehilangan ingatannya akibat kecelakaan. Dan diketahui juga bahwa Meli selama ini dirawat oleh saudara pak lurah di kampung sebelah, mereka tidak ingin mengembalikan Meli karena Meli tidak ingat apapun dan tidak ingin memaksakan ingatannya. Kabar yang lebih mengejutkan adalah, Astri memiliki hubungan darah dengan Meli, karena Astri merupakan kembaran Meli yang hilang 10 tahun lalu akibat penculikan yang dihadapinya, pak lurah juga tidak mau mengembalikannya pulang, karena pak lurah tidak memiliki anak, dan dia ingin menjadikan Astri sebagai anaknya sendiri, itu sebabnya Astri dan Meli sangat mirip. Mengenai kejadian kecelakaan itu pak lurah dan warganya sepakat untuk tidak menceritakan kejadian itu kepada para pendatang, karena takut akan para turis yang datang berkurang jumlahnya dan penghasilan pariwisata mereka menurun.
3 tahun setelah kejadian itu terungkap.
            “ kakak cepat, ibu dan ayah sudah menunggu dibawah, dandannya jangan lama ” ucap Meli.
            “ iya.. iyaaa sabar sebentar, ini kan acara pernikahan jadi harus cantik ” jawab Astri.
            “ iya tapi jangan ketebelan, lama kan jadinya, nanti acara pernikahan Ludin dan Harum sudah dimulai ”
            “ iyaaa adikku yang bawel, ini juga sudah selesai, yuk kita pergi ” Astri menggandeng tangan Meli sambil tersenyum.

2 komentar: